Kediri – Alun-alun kota Kediri yang mulai di renovasi sejak bulan Mei 2023, dengan tujuan untuk membentuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lebih moedrn dan nyaman untuk masyarakat kota Kediri. Namun, renovasi tersebut terhenti sejak akhir tahun 2023 karena berbagai alasan. Tidak berhenti disutu, hingga memasuki tahun 2026, proyek ini sempat menjadi sorotan publik karena kondisinya yang terbengkalai. Namun, pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah hukum dan audit untuk melanjutkan kembali pembangunan agar ikon kota tersebut dapat segera dinikmati oleh masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Kediri adalah membuka ruang dialog dengan tokoh masyarakat setempat guna merumuskan solusi dari pembangunan Alun-Alun Kediri yang saat ini terhenti. Diskusi tersebut bertempat di urmah Muhammad Anwar Iskandar atau akrab disapa Gus War, salah satu Tokoh Masyarakat sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Rejomulyo berharap agar Ruang Terbuka Hijau (RTH) Alun-Alun Kediri dapat segera dimulai lagi pembangunannya. Menurutnya hal tersebut didasari beberapa alasan, yang paling utama ialah agar tidak tampak kumuh. Kebersihan serta kerapian RTH Alun-Alun dinilai dapat menjadi cerminan warga Kota Kediri yang bersih, tertib, dan tertata.
Gus War menyampaikan, alun-alun merupakan salah satu tempat yang menjadi ikon kota tahu itu merupakan tempat bertumpunya masyarakat pelaku UMKM, “Dulu sebelum dibangun itu kan tempat masyarakat berjualan mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, setelah dibangun masyarakat berhenti. Setelah selesai akan memberi kesempatan kepada masyarakat yang sempat terhenti usahanya untuk menjalankan kehidupan jualannya sehari-hari aktif lagi, ini merupakan aspek sosial dan ekonomi yang sangat penting,” terangnya.
RTH juga merupakan wadah rekreasi bagi masyarakat sekitar, baik untuk berolahraga santai maupun sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. Menurut Gus War, apabila proyek segera diselesaikan dan dibangun dengan baik tentu dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Kota Kediri. “Pertama, akan kelihatan wajah dan etalase Kota Kediri yang rapi, bersih, dan baik. Kedua, bisa menghidupkan UMKM. Ketiga, bisa menjadi tempat rekreasi kecil bermain keluarga,” sebutnya.
Untuk diketahui, Konsep alun-alun sebagai ikon atau pusat identitas sebuah kota memang memiliki akar sejarah yang sangat dalam, membentang sejak zaman kerajaan Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Perannya bukan sekadar lapangan terbuka, melainkan simbol kekuasaan dan pusat kosmos. Alun-alun juga dianggap sebagai titik nol aktivitas warga. Namun pada saat ini, alun-alun telah bertransformasi menjadi ruang publik modern namun tetap menjaga nilai historis sebagai pusat gravitasi kota. (edp)




























