News

Ruang Dialektika Kader: Menyatukan Pemikiran dan Arah Gerakan

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

128Views

Surabaya — Di tengah situasi sosial-politik yang semakin kompleks dan sering kali menjauhkan generasi muda dari kesadaran kritis, Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menunjukkan eksistensinya sebagai ruang perjuangan intelektual melalui forum diskusi kader bertajuk “Ruang Dialektika Kader: Menyatukan Pemikiran dan Arah Gerakan.”

Forum yang dipimpin oleh Wakil Bidang Sosial Politik, Irbah Prabu, menjadi wadah bagi kader untuk membedah berbagai persoalan sosial, politik, dan hukum yang hari ini terjadi di tengah masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan pertukaran gagasan yang kritis, progresif, dan berpihak kepada kepentingan rakyat kecil.

Dalam forum tersebut, Irbah Prabu menegaskan bahwa kader GMNI tidak boleh menjadi generasi yang apatis terhadap realitas bangsa. Menurutnya, mahasiswa harus hadir sebagai kekuatan moral dan kekuatan intelektual yang mampu membaca arah zaman sekaligus menjadi penyambung suara rakyat, Mari kita bersama merawat pemikiran yang Bung Karno warisi dengan selalu melek terhadap isu yang terjadi di dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita jangan hanya fokus pada isu nasional, tetapi juga harus melek terhadap isu regional yang ada di sekitar kita hari ini,” tegas Irbah Prabu dalam sesi penutupan diskusi.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa GMNI Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya tidak ingin kadernya hanya menjadi penonton sejarah. Di tengah meningkatnya ketimpangan sosial, ketidakadilan hukum, krisis moral politik, serta berbagai persoalan rakyat yang terus bermunculan, GMNI hadir untuk membangun kesadaran kolektif bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis terhadap bangsa. Bagi GMNI FH UNTAG Surabaya, ruang diskusi bukan sekadar tempat bertukar pendapat, melainkan arena pembentukan karakter perjuangan. Dari ruang-ruang kecil seperti inilah lahir
keberanian berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, dan keberanian membela rakyat yang selama ini suaranya sering diabaikan.

Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya juga menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus kembali dekat dengan realitas masyarakat. Kader tidak boleh terjebak dalam romantisme organisasi semata, tetapi harus mampu turun membaca keresahan rakyat, memahami persoalan di lingkungan sekitar, serta menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial yang terjadi.

Kehadiran forum ini sekaligus menjadi penegasan kepada masyarakat bahwa GMNI Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya masih tetap berdiri dan bergerak bersama rakyat. Di saat banyak organisasi kehilangan arah perjuangan, GMNI memilih untuk tetap menjaga api ideologi, merawat tradisi intelektual, dan memperkuat semangat perjuangan marhaenis. Dengan semangat persatuan dan dialektika, GMNI FH UNTAG Surabaya percaya bahwa perubahan tidak lahir dari diam, tetapi lahir dari keberanian berpikir, keberanian bersuara, dan keberanian bergerak bersama rakyat.

x