News

Mencetak Kader Ideologis dan Progresif melalui Tradisi Diskusi

Jurnalis: Roma Duwi Juliandi

109Views

Surabaya — Di tengah arus pragmatisme kampus yang semakin menjauhkan mahasiswa dari tradisi berpikir kritis dan perjuangan ideologis, Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menegaskan komitmennya dalam membangun kader-kader progresif melalui forum diskusi kader yang dilaksanakan secara rutin. Forum yang menjadi ruang konsolidasi intelektual tersebut turut menghadirkan Wakil Bidang Kaderisasi, Putra Chinto, yang memantik pembahasan mengenai evaluasi kaderisasi serta langkah-langkah strategis untuk memperbaiki pola kaderisasi di lingkungan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. (21/5/2026)

Dalam penyampaiannya, Putra Chinto menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar agenda formal organisasi, melainkan proses pembentukan karakter, keberanian berpikir, dan kesadaran ideologis seorang mahasiswa. Menurutnya, organisasi mahasiswa tidak boleh hanya melahirkan kader yang aktif secara administratif, tetapi harus mampu mencetak kader yang memiliki keberpihakan terhadap rakyat dan peka terhadap realitas sosial di sekitarnya, “Kaderisasi harus menjadi ruang pembentukan manusia-manusia progresif yang mampu berpikir kritis, bergerak bersama rakyat, dan berani menjaga idealisme di tengah zaman yang semakin pragmatis,” ujar Putra Chinto dalam forum diskusi tersebut.

Diskusi berjalan dinamis dengan berbagai evaluasi terhadap pola kaderisasi yang selama ini berjalan di lingkungan komisariat. Seluruh kader diajak untuk merefleksikan kembali arah gerakan organisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan persoalan masyarakat hari ini. Bagi GMNI FH UNTAG Surabaya, tradisi diskusi merupakan fondasi utama dalam membangun organisasi yang hidup. Dari ruang-ruang dialektika inilah lahir kesadaran kolektif, semangat perjuangan, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Organisasi mahasiswa tidak boleh kehilangan budaya berpikir, sebab matinya diskusi adalah awal matinya gerakan.

Di tengah kondisi kampus yang sering kali dipenuhi budaya individualisme, apatisme politik, dan orientasi akademik semata, GMNI Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya hadir membawa semangat berbeda: mengajak mahasiswa kembali sadar bahwa kampus bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga ruang untuk membangun keberanian intelektual dan tanggung jawab sosial.

GMNI FH UNTAG Surabaya juga mengajak seluruh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk tidak menjadi generasi yang diam melihat berbagai persoalan bangsa. Mahasiswa harus kembali menjadi garda terdepan perubahan sosial, menjadi penyambung suara rakyat, dan menjadi kekuatan moral di tengah krisis keadilan yang terjadi hari ini. Melalui tradisi diskusi dan kaderisasi yang progresif, GMNI percaya bahwa masa depan bangsa tidak akan lahir dari mahasiswa yang pasif, tetapi dari mahasiswa yang berani berpikir, berani bersikap, dan berani bergerak.

x