Surabaya — Di tengah kampus yang semakin dipenuhi budaya apatis, pragmatis, dan hilangnya keberanian mahasiswa untuk berpikir kritis, Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menegaskan sikapnya: gerakan mahasiswa tidak boleh mati, dan kesadaran kader tidak boleh dipadamkan.
Ketua DPK GMNI FH UNTAG Surabaya, M. Ja’far Raihan Alfath, membuka ruang dialektika dengan seruan keras kepada seluruh kader untuk kembali menyadari posisi historis mahasiswa sebagai kekuatan perubahan sosial. Dalam pembukaannya, Raihan menegaskan bahwa forum-forum ideologis seperti ini harus tetap hidup, terlepas dari dinamika internal maupun eksternal yang sedang terjadi. Menurutnya, kehancuran sebuah gerakan bukan dimulai ketika organisasi diserang dari luar, melainkan ketika kader mulai kehilangan kesadaran dan melupakan sejarah perjuangannya sendiri.
“Agenda seperti ini harus tetap terjaga. Terlepas dari dinamika yang terjadi, kita sebagai kader komisariat harus fokus merawat ingatan perjuangan yang sudah dibangun oleh para pendahulu. Komisariat ini dibangun bukan untuk menjadi organisasi yang diam, tetapi menjadi gerakan progresif yang melahirkan keberanian berpikir dan keberanian melawan ketidakadilan,” tegas M. Ja’far Raihan Alfath di hadapan seluruh kader.
Raihan juga mengingatkan bahwa ruang dialektika bukan sekadar forum formalitas organisasi, melainkan ruang perlawanan intelektual untuk membangunkan kesadaran mahasiswa yang hari ini mulai tertidur oleh kenyamanan, popularitas semu, dan budaya kampus yang semakin
kehilangan keberpihakan terhadap rakyat.
Menurutnya, mahasiswa hari ini sedang menghadapi krisis kesadaran yang serius. Banyak yang lebih sibuk mengejar citra daripada keberanian berpikir. Banyak yang memilih diam melihat ketidakadilan karena takut kehilangan kenyamanan. Dan lebih parahnya lagi, banyak organisasi mahasiswa mulai kehilangan arah perjuangan karena sibuk dengan konflik internal tanpa membangun kekuatan ideologi. GMNI FH UNTAG Surabaya menilai bahwa kondisi tersebut adalah ancaman nyata bagi masa depan gerakan mahasiswa. Ketika mahasiswa berhenti berpikir kritis, maka kampus hanya akan menjadi pabrik pencetak manusia yang tunduk pada sistem tanpa pernah berani mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya.
Karena itu, GMNI Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk kembali membangun keberanian intelektual dan kesadaran kolektif. Kampus harus kembali menjadi ruang perjuangan, bukan sekadar tempat mencari gelar dan mengejar kepentingan pribadi.
Forum diskusi ini menjadi penegasan bahwa GMNI FH UNTAG Surabaya tetap hadir sebagai barisan perlawanan intelektual di tengah matinya kesadaran mahasiswa. Di saat banyak yang memilih diam, GMNI memilih tetap bersuara. Di saat banyak yang takut berpikir kritis, GMNI memilih menjaga api dialektika. Dan di saat banyak gerakan mulai kehilangan arah, GMNI tetap berdiri membawa semangat perjuangan marhaenis.




























