SURABAYA — Di tengah merosotnya disiplin organisasi dan semakin longgarnya komitmen kader terhadap arah perjuangan ideologis, Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menegaskan satu hal penting: organisasi tidak akan pernah hidup tanpa kedisiplinan, loyalitas, dan kepatuhan terhadap konstitusi gerakan.
Sekretaris Jenderal Komisariat Daniel Yulius Caesar, menyampaikan penegasan keras kepada seluruh kader mengenai pentingnya memegang teguh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi sebagai landasan perjuangan GMNI. Menurut Daniel, AD/ART bukan sekadar dokumen administratif yang dibacakan saat forum formal, melainkan pedoman ideologis dan arah perjuangan yang menjaga organisasi tetap hidup di tengah berbagai dinamika internal maupun eksternal, “Kader GMNI Fakultas Hukum tidak boleh menyimpang dari AD/ART organisasi. Karena
ketika kader mulai mengabaikan konstitusi organisasi, saat itu pula arah perjuangan mulai kehilangan pijakan,” tegas Daniel Yulius Caesar di hadapan seluruh peserta forum.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan keras bagi budaya organisasi yang hari ini sering kali lebih sibuk membangun kepentingan kelompok daripada menjaga marwah perjuangan kolektif. GMNI FH UNTAG Surabaya menilai bahwa krisis terbesar organisasi mahasiswa saat ini bukan hanya persoalan eksternal, tetapi lahir dari kader yang mulai melupakan disiplin organisasi dan menjadikan aturan hanya sebagai formalitas semata. Dalam forum tersebut juga ditegaskan bahwa organisasi gerakan tidak akan pernah mampu menjadi kekuatan rakyat jika kadernya sendiri tidak memiliki kedisiplinan ideologis.
Sebab sejarah membuktikan, kehancuran gerakan selalu dimulai dari lunturnya loyalitas terhadap nilai, aturan, dan arah perjuangan organisasi.
GMNI Komisariat Fakultas Hukum UNTAG Surabaya menolak keras budaya organisasi yang dipenuhi ego sektoral, kepentingan pribadi, dan sikap oportunis yang menggerus solidaritas kader. Bagi GMNI, organisasi harus dibangun di atas kesadaran kolektif, loyalitas perjuangan, dan penghormatan terhadap konstitusi organisasi.
Di tengah kondisi gerakan mahasiswa yang semakin kehilangan arah, GMNI FH UNTAG Surabaya justru memilih memperkuat fondasi organisasi melalui disiplin kader dan peneguhan ideologi. Karena bagi Komisariat Fakultas Hukum, AD/ART bukan alat pembatas gerakan, melainkan nafas yang menjaga perjuangan tetap hidup dan terarah. Forum ini sekaligus menjadi seruan terbuka kepada seluruh kader dan mahasiswa bahwa organisasi perjuangan tidak membutuhkan kader yang hanya pandai berbicara, tetapi kader yang siap tunduk pada disiplin organisasi dan berani menjaga marwah gerakan. GMNI FH UNTAG Surabaya percaya bahwa organisasi yang besar bukan dibangun oleh kader yang haus jabatan, melainkan oleh kader yang siap menjaga nilai perjuangan meski harus berhadapan dengan dinamika dan tekanan zaman.




























