News

Gema Takbir di Balik Jeruji: Menjemput Keikhlasan dan Semangat Berbagi di Lapas Kediri

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

76Views

Kediri – Gema takbir berkumandang syahdu di dalam Lapas Kelas IIA Kediri, membawa suasana khidmat bagi ratusan warga binaan yang merayakan Hari Raya Idul Adha. Momentum keagamaan ini menjadi sarana refleksi diri sekaligus proses pembinaan spiritual bagi para warga binaan untuk memperteguh keimanan dan kepedulian sosial.

Rangkaian perayaan diawali dengan pelaksanaan Salat Idul Adha berjamaah yang diikuti oleh jajaran petugas beserta warga binaan. Bertempat di lapangan blok hunian, ibadah berlangsung dengan penuh khusyuk. Dalam khotbahnya, khatib menekankan pentingnya memaknai esensi pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai fondasi utama dalam membangun kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan dalam menjalani proses kehidupan.

Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Gatot Tri Rahardjo, menyampaikan bahwa perayaan Idul Adha di dalam lapas bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah ruang edukasi moral yang sangat berharga.

“Idul Adha mengajarkan kita semua tentang arti keikhlasan dan kepasrahan kepada Tuhan. Kami berharap melalui momentum ini, warga binaan dapat memetik pelajaran berharga untuk memperbaiki diri, menumbuhkan jiwa sosial, dan kembali ke masyarakat nantinya sebagai pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Setelah pelaksanaan salat, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Petugas lapas bersama perwakilan warga binaan bergotong-royong dalam proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban. Seluruh daging kurban diolah secara higienis di dapur lapas untuk kemudian disajikan sebagai hidangan bersama bagi seluruh warga binaan.

Melalui kegiatan ini, Lapas Kediri berhasil menghadirkan nuansa kehangatan keluarga dan kebersamaan, membuktikan bahwa keterbatasan ruang fisik tidak menghalangi para warga binaan untuk merasakan indahnya berbagi dan belajar menjadi manusia yang lebih bernilai. Melalui ibadah kurban petugas dan warga binaan dapat bersama-sama memahami tentang kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari hubungan vertikalnya dengan Tuhan (Hablum Minallah), tetapi harus berdampak konkret pada hubungan horizontal dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Kurban mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang selesai dengan dirinya sendiri, lalu bergerak membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. (edp)

x