Sorotan

2 Sineas Kediri Gelar Screening Film Kehidupan Masyarakat Kabupaten Kediri

Jurnalis : Ellya Destiara Permata

Ahmad Syukron Naim dan Baariklana Fadli Saat Sreening
1.07KViews

Kediri – 2 sineas muda berbakat Kediri, Ahmad Syukron Naim dan Baariklana Fadli membuat film dokumenter yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Kabupaten Kediri dan menggelar screening  film dan diskusi di Alodie Coffee kota Kediri. (3/5/2023)

Pada screening tersebut, Ahmad Syukron Naim menampilkan film documenter yang berjudul “Di Balik Manisnya Tebu” yang menceritakan perkampungan yang luasnya hanya sekitar ukuran lapangan bola, jauh dari pemukiman dan akses jalan desa. Lokasinya berada di tengah perkebunan tebu di Kabupaten Kediri, secara administrasi perkampungan kecil itu masuk Dusun Onggoboyo, Desa Babadan, Kecamatan Ngancar. Kampung tersebut di huni oleh pekerja pabrik tebu peninggalan Zaman Belanda yang masih bertahan hingga sekarang, walaupun kampung tersebut sangat minim infrastruktur terutama listrik dan sumber air.

Laki-laki gondrong dan berkacamata yang akrab disapa Sukron tersbut menceritakan kendala-kendala saat mengerjakan film tersebut salah satunya akses jalan untuk menuju lokasi, “Kendala dalam proses pembuatan yang paling kita rasakan sebenarnya adalah akses baik itu perjalanan kita menuju kesana sampai kita berada pada proses syuting pengambilan gambar di sana. Secara teknis pengambilan gmbar ini yg paling susah adalah tenis pengambilan tine lapse karena dalam metode visual yg kita usung adalah dokumenter ekspositori dengan menambahkan keindahan panorama yg ada di sana. Untuk mengangkat potensi ke aslian bangunan Belanda yg masih terjaga di sana”, paparnya.

Dalam film dokumenter tersebut, Sukron berharap dapat menumbuhkan semangat baru untuk generasi Indonesia dalam berkarya, Film pendek sederhana ini kita persembahkan untuk masyarakat Kediri menjelang bandara diresmikan, dengan harapan melahirkan sebuah semangat-semangat baru untuk generasi indonesia untuk berkarya dan memberikan dampak baik atas karya tersebut, semoga yang pendek ini meninggalkan kesan baik untuk kita semua para penikmat film dan sineas di Kediri. Untuk mengangkat potensi2 lokalitas daerah kita, harapnya.

Sementara itu, Baariklana Fadli yang pada kegiatan tersebut menampilkan film documenter berjudul “Satrio Kelud” yang bermula dari keresahannya akan informasi yang ramai di bahas di media sosial tentang harga ojek di gunung Kelud yang dianggap terlalu mahal.

Dalam film dokumenternya tersebut, Barik menyampaikan pandangannya tentang gejolak social yang terjadi di masyarakat, “Kita harus melihat dua sisi ketika terjadi masalah khususnya gejolak sosial, maka mis komunikasi dan mis interpretasi dapat terhindarkan, dan membangun rasa toleransi dan sepemahaman sebagai masyarakat majemuk”, ujarnya.

Proses pembuatan film yang memakan waktu cukup panjang, yakni mulai Desember 2020 hingga April 2021 ini membawa kesan dan pengalaman untuk Barik karena ia bisa berwisata di gunung Kelud sejak sebelum jam buka, hingga semua wahana wisata  tutup.

Tidak hanya itu, pada hari ini (5/4/2023) kedua film dokumenter tersebut akan kembali di screening di Kedai Miruku yang berada di kampong Inggris Pare Kabupaten Kediri. (edp)

x