News

Astamaops Kapolri Cek Penanganan Gempa Manggarai, 13.881 Warga Mengungsi

Jurnalis: Fredecius Hardiyanto

58Views

MANGGARAI, NTT, 17 Agustus 2026 — Polri memaksimalkan operasi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, M.Si., turun langsung ke wilayah terdampak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Pada Senin (17/8/2026), Fadil bersama Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si., meninjau Posko Pengungsi Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.

Berdasarkan laporan Kapolres Manggarai pada Senin (17/8/2026) pukul 23.00 WITA, tercatat 163 korban, terdiri atas 27 orang meninggal dunia, 32 orang luka berat, dan 104 orang luka ringan.

Sementara itu, terdapat 45 posko pengungsian yang tersebar di delapan kecamatan dengan total 13.881 pengungsi. Data tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui sesuai kondisi di lapangan.

Saat tiba di Posko Pengungsi Barang Kolo sekitar pukul 12.40 WITA, Fadil langsung mengecek kondisi pengungsi dan kebutuhan masyarakat. Polri kemudian menyalurkan 2.500 paket bantuan sosial/sembako, tenda darurat, serta dua unit Starling untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.

Setiap paket sembako berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, mi instan, teh celup, kecap, biskuit, dan minyak goreng. Bantuan tersebut melengkapi dukungan yang sebelumnya telah didistribusikan ke sejumlah posko berupa tenda, terpal, genset, makanan dan minuman, serta layanan kesehatan.

Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah mengatakan Polri memastikan masyarakat terdampak bencana tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri.

“Kami pastikan masyarakat tidak sendiri. Kami hadir di posko, membantu evakuasi, menyalurkan sembako, menyiapkan tenda darurat, memberikan pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan,” ujar Levi.

Penanganan bencana dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat. Masing-masing unsur menjalankan tugas sesuai kewenangannya, mulai dari evakuasi, pencarian dan pertolongan, pendataan, pelayanan kesehatan, distribusi bantuan hingga pengamanan.

Dari 45 posko pengungsian yang tersebar di delapan kecamatan, jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Reok dan Wae Rii. Kecamatan Reok memiliki tujuh posko dengan 4.488 pengungsi, sedangkan Wae Rii memiliki 17 posko dengan 4.476 pengungsi.

Beberapa posko dengan jumlah pengungsi cukup besar antara lain Robek sebanyak 1.500 jiwa, Barangkolong 1.330 jiwa, Golo Mendo 1.058 jiwa, Tengku Romot 602 jiwa, dan Golo Sita 583 jiwa.

Levi mengatakan luasnya wilayah terdampak dan banyaknya titik pengungsian menjadi tantangan dalam penanganan. Selain itu, kebutuhan setiap posko berbeda dan data di lapangan terus berubah.

“Pengungsi tersebar di 45 titik, kebutuhan setiap posko berbeda, sementara data di lapangan terus bergerak. Karena itu koordinasi harus cepat,” katanya.

Operasi kemanusiaan tersebut melibatkan 100 personel Polri, 31 personel TNI, 68 personel Brimob termasuk Resimen 2 Pelopor Korps Brimob Polri, lima personel Basarnas, dan enam personel BPBD Jawa Timur.

Personel gabungan bertugas melakukan evakuasi, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, dukungan kesehatan, pengamanan lokasi, serta patroli untuk menjaga keamanan di wilayah terdampak.

Hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, tercatat 2.398 fasilitas mengalami kerusakan, meningkat dari data sebelumnya sebanyak 2.081 fasilitas. Kerusakan meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, fasilitas masyarakat, dan fasilitas kesehatan.

Polri bersama seluruh unsur terkait terus memperbarui data korban, pengungsi, kerusakan, dan kebutuhan masyarakat sebagai dasar menentukan prioritas penanganan.

Setelah meninjau Kecamatan Reok, Fadil bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, untuk melihat langsung kondisi korban dan penanganan bencana.

Levi memastikan jajaran Polri akan terus berada di tengah masyarakat dan menyesuaikan respons dengan perkembangan kebutuhan di lapangan.

“Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan. Prinsip kami sederhana: siapa yang membutuhkan harus kami bantu, dan di mana masyarakat membutuhkan kehadiran Polri, di situ personel kami berada,” pungkasnya. (ho)

x