Uncategorized

Disperdagin Kota Kediri Akan Membawa Saksi Sejarah Kota Kediri Dalam 8th  DSF

Jurnalis : Ellya Destiara Permata

360Views

Kediri – Pemerintah Kota Kediri Akan Menggelar 8th DSF dengan mengusung tema ‘brantas, Beyond Infinity’. Agenda tahunan yang mendatangkan para desainer tersebut akan digelar pada (14/10/2023) di tepi s=Sungai Brantas dengan menampilkan karya Didiet Maulana, Eko Tjandra, ORCHID by SMKN 3 Kediri, Azzkazim Boutique by Khasim, Luxecesar  by Desty,  Numansa by Nunung, Djajawarsa by Richa, dan Varish Gown by  Ivan.

Sesuai dengan tema Brantas, Beyond Infinity yang berarti Melampaui Keabadian, Pemerintah Kota Kediri Melalui Disperdagin akan mempersembahkan cerita SAKSI SEJARAH KOTA Kediri, narasi yang disampaikan akan menceritakan peradaban sungai yang cukup panjang.

Jadi pada zaman dulu, Mrican adalah penghasil rempah penting bahkan jauh sebelum VOC. Secara umum, rantai perdangan rempah dimulai dari produsen rempah (petani) yang memanen rempah kemudian dijual ke pasar lokal melalui jalur sungai. Dari jalur sungai, dikumpulkanlah di pelabuhan sungai kemudian diangkut ke pelabuhan laut. Barulah diangkut denga kapal antarnegara hingga ke konsumen rempah.

Sungai Brantas menyumbang peradaban jalur rempah penting melalui jalur maritim sungai. Dari produsen merica di kawasan kaki Gunung Wilis, kemudian dibawa melalui pelabuhan Bandar, Jong Biru, hingga ke Pelabuhan Hujung Galuh (yang sekarang di wilayah Surabaya). Dari sini baru menuju jalur maritim laut.

Selain itu, Sungai Brantas juga menjadi saksi keahlian Raja Airlangga dalam arsitektur waduk dan sungai. Nama “airlangga” berarti air yang melompat.

Raja Airlangga bertahta di Mataram Kuno pada 1009-1042M. Ia membagi kerajaan menjadi dua, yaitu di Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri), yang dibatasi dengan Gunung Jawi dan Sungai Brantas. Tujuan pembagian kerajaan tersebut yaitu agar tidak ada pertikaian.

Sarana pengairan atau bendungan pertama di lembah Sungai Brantas dibangun oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan (1023 – 1041), yaitu berupa Bendungan Waringin Sapta. Bangunan ini berfungsi sebagai pengendali banjir dan sarana pengairan. Bendungan Waringin Sapta dibangun pada 1037 untuk mencegah banjir musiman.

Selain terkait dengan tata air, Sungai Brantas juga terkait dengan pertahanan. Menurut penelitain Cok Sawitri, budayawan Bali, Raja Airlangga berhasil membalikkan aliran arus Sungai Brantas, dari alira masuk ke kawasan kerajaan menjadi keluar kerajaan. Hal ini menghalangi kapal musuh yang akan masuk melalui jalur sungai.

Hingga ini, lebih dari 10 abad kemudian, Sungai Brantas masih perkasa menjaga tata air DAS yang dilaluinya. Membelah Kota Kediri hingga mengalir sampai jauh, hingga tak berhingga. (edp)

x