KEDIRI — Penulis sekaligus tenaga pendidik, Nining Niswati, M.A., mengalih-rupakan hasil penelitian tesis Magister (S2) menjadi sebuah buku berjudul Orang-orang Kediri. Buku tersebut mengangkat sejarah Kediri melalui kajian terhadap naskah kuno Serat Babad Kadhiri yang tersimpan di Museum Sonobudoyo.
Nining yang menempuh pendidikan S2 di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menggunakan pendekatan filologi, hermeneutik, dan sosiologi sastra dalam penelitiannya. Ia juga menganalisis serta membandingkan isi teks klasik berbahasa Jawa tersebut dengan naskah terjemahan karya seorang guru lokal.
Nining yang juga merupakan guru Bahasa Indonesia di MAN 2 Kediri mengungkapkan, penulisan draf awal tesisnya berlangsung cukup cepat, yakni sekitar dua minggu. Namun, proses riset lapangan menjadi tantangan terbesar dalam penyelesaian penelitian tersebut.
“Proses pengamatan dan penelitian lapangannya yang membutuhkan waktu lama. Misalnya, saat melacak tokoh-tokoh sejarah yang berkaitan dengan peninggalan keagamaan Hindu, saya berdiskusi langsung dengan pemuka agama Hindu agar penafsirannya selaras dengan fakta sejarah,” ujar Nining.
Setelah penelitian selesai, Nining kemudian mengolah karya ilmiahnya menjadi buku yang lebih mudah dipahami masyarakat. Proses tersebut dilakukan melalui penyuntingan bahasa tesis yang cenderung baku menjadi bahasa populer.
Dalam proses penyuntingan, Nining juga mendapat bantuan dari tim penerbit. Langkah tersebut dilakukan agar hasil penelitian yang sebelumnya ditujukan untuk kepentingan akademis dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui buku Orang-orang Kediri, Nining berharap generasi muda dapat lebih mengenal sejarah daerahnya. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah lokal dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas sebagai masyarakat Kediri.
“Kediri dulu adalah kerajaan yang sangat besar dan jaya. Saya ingin timbul kesadaran di masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bangga dan menjaga identitas diri sebagai orang Kediri, layaknya warisan para raja di masa lampau,” pungkasnya. (edp)




























