PACITAN – PLN Nusantara Power (PLN NP) terus memperkuat upaya pelestarian Sungai Maron, Pacitan, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan tersebut. Komitmen itu dilakukan melalui program Dari Energi untuk Sungai sebagai bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Program tersebut telah dijalankan PLN NP bersama masyarakat Maron sejak 2023. Selain menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati, program diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi wisata dan ekonomi secara mandiri.
Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, sejak awal PLN NP tidak hanya berfokus membangun fasilitas di kawasan Sungai Maron, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi daerahnya.
“Ketika PLN Nusantara Power memulai pengembangan Sungai Maron pada 2023, kami tidak ingin hadir hanya dengan membangun fasilitas kemudian meninggalkannya. Kami ingin membangun sesuatu yang lebih fundamental, yaitu kapasitas masyarakat untuk dapat mengelola potensi yang mereka miliki sendiri,” ujar Ruly.
Sejak 2023, program tersebut berkembang dari penguatan kelembagaan dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), peningkatan keselamatan wisata, pelatihan 93 joki perahu, serta pengembangan UMKM. Program kemudian diperluas pada aspek lingkungan, energi bersih, dan ekonomi sirkular.
Pada 2025, melalui fase SUMANTRI BERSERI (Sungai Maron Lestari, Bersih, dan Berdikari), PLN NP mendukung pengadaan 10 perahu listrik CAKRA Electric Boat, SPKLU berbasis tenaga surya, Early Warning System (EWS) banjir, TPS3R, konservasi sempadan sungai, serta pemanfaatan FABA untuk infrastruktur kawasan wisata.
FABA (Fly Ash and Bottom Ash) dari PLTU Pacitan juga dimanfaatkan untuk berbagai fasilitas di kawasan Sungai Maron, seperti paving, gapura, dan elemen pendukung wisata. Pemerintah Kabupaten Pacitan turut mencatat dukungan berupa paving FABA, gerabah terakota berbahan FABA, TPS3R, EWS, rambu zonasi kecepatan perahu, hingga fasilitas life guard.
Memasuki 2026 melalui fase SUMANTRI BERANI (Sungai Maron Lestari, Berdaya, dan Adaptif), program difokuskan pada penguatan keberlanjutan. Limbah kelapa diolah menjadi cocofiber, cocopeat, dan coirlog. Setiap bulan, sekitar 1.136 kilogram limbah kelapa diolah, sedangkan pemanfaatan coirlog untuk pengendalian abrasi telah memberikan manfaat bagi 116 rumah tangga.
“Ini adalah contoh shared value. Ketika lingkungan menjadi lebih baik, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Ketika ekonomi masyarakat tumbuh, kepedulian terhadap lingkungan semakin kuat. Dan ketika masyarakat semakin berdaya, kawasan menjadi semakin berkelanjutan,” kata Ruly.
Dalam kegiatan Dari Energi untuk Sungai yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-31 PLN NP, perusahaan bersama para pemangku kepentingan melakukan konservasi melalui penanaman 310 pohon, pemasangan 3.100 meter tali sabut kelapa, penanaman 10.000 akar wangi, serta pelepasliaran 3.100 benih ikan sidat. Kegiatan tersebut juga disertai aksi bersih sungai dan edukasi lingkungan.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi pendampingan PLN NP terhadap masyarakat Sungai Maron yang telah berlangsung sejak 2023. Ia menilai pengelolaan kawasan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Terima kasih kepada PLN Nusantara Power yang sudah mendampingi masyarakat Maron sejak 2023. Saya menjadi saksi bagaimana pendampingan ini memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Sungai Maron memberikan berkah, sehingga wajib bagi kita untuk menjaga kelestariannya,” ujar Indrata.
Menurut Indrata, pengelolaan Sungai Maron juga mulai menarik perhatian daerah lain yang ingin menerapkan konsep serupa, termasuk dari Yogyakarta. Ia menekankan pentingnya memastikan pengembangan wisata memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa kelestarian sungai berkaitan erat dengan kondisi vegetasi dan kawasan hulu. Menurutnya, keberadaan pohon dan vegetasi yang subur berperan dalam menjaga keberlangsungan sungai.
Sementara itu, Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH/BPLH Tulus Laksono mengatakan pengembangan wisata Sungai Maron perlu dibarengi pemantauan kualitas air secara berkala. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi sungai dan menentukan upaya perbaikan jika ditemukan penurunan kualitas air.
“Sungai Maron ini memiliki potensi yang luar biasa. Karena dimanfaatkan untuk aktivitas wisata air, kualitas airnya perlu dipantau secara berkala. Ini penting agar kita mengetahui kondisi sungai dan dapat segera melakukan langkah peningkatan apabila diperlukan,” ujar Tulus.
Tulus juga menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu untuk mempertahankan ketersediaan air sungai sepanjang tahun. Menurutnya, penanaman pohon di kawasan hulu berperan dalam menjaga keberlangsungan air dan kehidupan di sepanjang sungai.
Ia mengapresiasi langkah PLN NP yang mengembangkan Sungai Maron tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan.
“Yang kita harapkan, ketika suatu saat program ini diserahkan kepada masyarakat, perkembangannya tidak berhenti. Justru harus semakin kuat. Kekompakan masyarakat perlu terus dijaga agar manfaat ekonomi dan manfaat lingkungannya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Tulus.
Upaya tersebut sejalan dengan arah PLN NP yang mendorong masyarakat Sungai Maron bertransformasi dari penerima manfaat menjadi pelaku perubahan. Selain Pokdarwis, UMKM, pengelola sampah, joki perahu, dan kelompok perempuan, PLN NP turut melibatkan anak-anak melalui program Generasi Hijau Sungai Maron.
PLN NP berharap kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan, KLH/BPLH, masyarakat, Pokdarwis, UMKM, dan kelompok lokal terus berlanjut setelah masa pendampingan berakhir. Pada 2027, program Sungai Maron diarahkan memasuki tahap kemandirian agar masyarakat semakin mampu mengelola kawasan wisata, ekonomi, dan konservasi secara berkelanjutan. (mmp)




























