News

Ubah Paradigma Masyarakat, Buku Fikih Disabilitas Psikososial Resmi Diluncurkan di Munas PBNU

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

118Views

Kediri-Salah satu tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas saat ini adalah sudut pandang atau pola pikir masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND), Jonna Aman Damanik. Untuk membantu mengubah cara pandang tersebut, buku Fikih Penguatan Disabilitas Psikososial dari Pemahaman Keagamaan Menuju Kesamaan Hak dan Keadilan Sosial resmi diperkenalkan ke publik. Peluncuran buku berharga ini digelar di sela-sela agenda Munas dan Konbes PBNU 2026, bertempat di Teras Gubuk Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur.

Mengenai pola pikir masyarakat, Jonna Aman Damanik menyoroti tantangan nyata di lapangan. “Karena ada anggapan bahwa standar normal adalah yang utama, sementara saya melihat dengan cara saya sendiri,” ujar Jonna, Minggu (21/06/2026).

Ia menyatakan bahwa merombak pola pikir tersebut, salah satunya lewat pendekatan nilai-nilai keimanan, merupakan langkah yang sangat penting. “Saya sangat antusias mengawal hal ini bersama teman-teman. Harapannya, sudut pandang kita semua bisa lebih tepat,” tuturnya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang meresmikan peluncuran buku tersebut menegaskan bahwa karya ilmiah-keagamaan ini bukan buku biasa. Melainkan sebuah panduan moral, rujukan sosial, sekaligus alat untuk mengubah cara berpikir masyarakat.

Tujuannya agar penyandang disabilitas mental-psikososial tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai manusia yang setara martabatnya dan haknya melekat tanpa syarat, sesuai jaminan konstitusi, agama, serta nilai kemanusiaan universal, “Dengan ini, buku Fikih Penguatan Disabilitas Mental Psikososial resmi saya luncurkan dengan bersama-sama membaca Al-Fatihah,” ucapnya.

Sementara itu, selaku tuan rumah sekaligus pengasuh PP Al-Falah Ploso, KH Abdurrahman Kautsar, menyampaikan bahwa buku ini mampu memotret realitas sosial dengan jelas sekaligus memberikan panduan praktis dalam berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Mental Psikososial (PDMP), “Kadang kesalahan kita sederhana tapi dampaknya buruk, yaitu ketika melihat orang yang berbeda, kita sulit menerima perbedaan tersebut, baik secara fisik maupun mental,” katanya.

Gus Kautsar menjelaskan bahwa kecenderungan itu sebenarnya manusiawi karena manusia secara alami menyukai keindahan dan apa yang ada pada dirinya sendiri, “Itulah mengapa kadang orang merasa paling baik. Menyadari kelebihan diri itu penting, tetapi jika sampai membuat kita menganggap orang lain tidak berharga atau tidak istimewa, itulah yang salah,” pungkasnya. (edp)

x