Kediri – Saat terdengar riuhnya distorsi digital dan musik elektronik, kemajuan terknologi yang terkadang membuat generasi muda lupa pada akar budaya, para seniman muda Kabupaten Kediri yang tegabung dalam Perkumpulan Kesenian Tayub Galuh Mekar berkolaborasi dengan para senior untuk menyanyikan lagu jawa dengan iringan gamelan, tak hanya itu nereka juga menarikan tarian-tarian tradisional dengan gemulai. Keindahan kesenian yang lama tidak terlihat itu, di nikmati oleh Ketua Komisi VI DPR RI saat ini adalah Anggia Ermarini bersama rombongan saat menghadiri Serah terima Seperangkat Gamelan dari Program TJSL Bank BTN. (6/6/2026)
Anggia mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah sangat jarang menemukan sanggar-sanggar seni budaya, “ini adalah salah satu bentuk kepedulian, saya terumata diisu kesenian dan budaya karena kalau bagi saya, sat di Jakarta itu sudah jarang sekali menemukan sanggar-sanggar seperti ini dan saya senang karena lihat banyak pelakunya adalah anak-anak muda”, ujarnya.

Menurut Anggia, sebuah kesenian tradisional harus dikembangkan karena membawa nilai-nilai filosofi yang tinggi, ” tidak hanya sekedar masalah bunyi kesenian gamelannya, tidak hanya masala tariannya, tetapi juga ada nilai-nilai filosofi yang luar biasa, yang leluhur kita sudah ramu sebagaimana hingga itu bisa menguatkan karakter kita sebagai bangsa”, pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Kesenian Tayub Galuh Mekar Sari, Sudarmanto, cara untuk menarik anak muda untuk tertarik dengan kebudayaan daerah adalah dengan memahami keinginannya, “Kalau melihat kondisi anak muda sekarang yang sudah modern, tugas kita adalah mendekati mereka dan memahami apa yang mereka sukai,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Anggia Ermarini dan anggota DPRD Kabupaten Kediri Fraksi PKB Ahmad Ahla, juga ikut menarikan tarian tayub. Tari Tayub (atau sering disebut Tayuban) adalah tarian pergaulan rakyat Jawa yang mengandung unsur keserasian, keakraban, dan kegembiraan. Tarian ini sangat populer di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur—termasuk di daerah Nganjuk, Kediri, Bojonegoro, dan Tuban. Ciri khas utama tari tayub adalah adanya interaksi langsung antara penari perempuan (yang disebut ledhek, waranggana, atau taledhek) dengan para penonton pria yang diajak ikut menari dengan cara dikalungkan selendang (sampur). (edp)



























