Kediri – Tenun Ikat Kediri, atau yang secara resmi dikenal sebagai Tenun Ikat Bandar, merupakan salah satu produk kriya tekstil kebanggaan Jawa Timur. Kerajinan tangan yang berpusat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2022. Dalam sejarahnya, awal mula industri tenun di Kediri dirintis oleh warga keturunan Tionghoa pada tahun 1950-an di kawasan Pecinan (sekitar Jalan Yos Sudarso). Pada masa kejayaannya di tahun 1950 hingga awal 1960, komoditas utama yang diproduksi adalah sarung tenun manual. Setelah sempat terhenti akibat pergolakan politik nasional tahun 1965, ketrampilan menenun ini mulai beralih dan dikembangkan oleh warga pribumi di Kelurahan Bandar Kidul sekitar tahun 1966. Pada awal perkembangannya di Bandar Kidul, para perajin hanya membuat sarung bermotif kotak-kotak sederhana untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan menyelamatkan roda ekonomi pasca-krisis. Kini, setelah melewati berbagai pasang surut zaman—termasuk hantaman maraknya kain buatan mesin pabrikan dan krisis moneter 1997—Tenun Ikat Kediri berhasil bertahan secara turun-temurun hingga mencapai generasi ketiga.
Berdasarkan sejarah yang panjang, hingga kini Tenun Ikat Bandar masih dikenal sebagai identitas kota Kediri. Hal tersebutlah yang dijelaskan oleh Walikota Kediri Vinanda Prameswati saat menerima kunjungan kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Dekranasda Kabupaten Manggarai Timur serta Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kunjungan tersebut merupakan kegiatan studi tiru untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan kelompok binaan BBKSDA NTT dalam pengembangan tenun ikat dan ekonomi kreatif melalui pembelajaran pengelolaan UMKM di Kota Kediri. (19/5/2026)
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Kediri Faiqoh Azizah Muhammad berharap kegiatan benchmarking (studi tiru) peningkatan produktivitas kelompok binaan BBKSDA Nusa Tenggara Timur ini dapat memberikan dampak positif bagi IKM di Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada, sekaligus menjadi awal terjalinnya sinergi dan kerja sama jangka panjang dengan Kota Kediri. Selanjutnya, rombongan diajak mengunjungi Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul untuk melihat secara langsung proses pembuatan kain tenun ikat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Rombongan menuju lokasi dengan menaiki Bus Satria sambil menikmati suasana Kota Kediri. (edp)



























