Pemerintahan

Latih 150 Anggota GOW, Kementan Kupas Tuntas Teknik Hidroponik

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

351Views

Kediri – Hidroponik adalah metode budidaya tanaman yang menggunakan air sebagai media tanam utamanya, bukan tanah. Dalam sistem ini, nutrisi yang dibutuhkan tanaman dilarutkan ke dalam air agar dapat langsung diserap oleh akar. Kata “hidroponik” berasal dari bahasa Yunani, yaitu hydro (air) dan ponos (daya atau kerja). Secara sederhana, ini adalah teknik “memberdayakan air” untuk menumbuhkan tanaman.

Sistem ini sangat populer di wilayah perkotaan (urban farming) karena beberapa alasan:

  • Hemat Lahan: Tanaman bisa disusun secara vertikal (bertingkat).
  • Hemat Air: Menggunakan air lebih sedikit dibandingkan pertanian konvensional karena air disirkulasikan kembali.
  • Bebas Pestisida: Lingkungan lebih terkontrol sehingga meminimalisir serangan hama dari tanah.
  • Pertumbuhan Lebih Cepat: Karena nutrisi langsung tersedia di akar, tanaman tidak perlu “mencari” makanan sejauh di dalam tanah.

Secara umu hidroponik dapat di terapkan kepada banyak jenis tanaman, tetapi yang popoler saat ini hidroponik digunakan untuk menanam sayuran, tanaman herbal, dan buah. Hal ini dapat mendukung ketahana pangan bagi sebuah keluarga dan memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan yang lebih produktif dan inovatif. Guna membekali keterampilan berkebun dengan metode hidroponik, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Kediri menggelar Worshop dengan narasumber Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Kementerian Pertanian RI. (13/5/2026)

Saat memberikan sambutan, Faiqoh Azizah Muhammad, Ketua GOW Kota Kediri mengutarakan bahwa selain untuk memberdayakan perempuan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen GOW Kota Kediri mewujudkan ketahanan pangan keluarga, serta meningkatkan keterampilan yang bermanfaat di lingkungan masyarakat, “Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kebutuhan hidup, memanfaatkan lahan berbasis hidroponik/polibag bisa menjadi langkah positif yang dapat diterapkan oleh ibu rumah tangga maupun komunitas masing-masing,” jelasnya. Ia sangat mengapresiasi anggota GOW yang telah menggagas program kerja berupa workshop budidaya sayur dengan penuh dedikasi, tak lupa juga kepada narasumber yang telah membagikan ilmunya kepada peserta. “Orang-orang seperti ini sangat positif karena tidak hanya memberikan wawasan baru tetapi juga mendorong terciptanya kemandirian serta kepedulian terhadap lingkungan dalam ketahanan pangan keluarga,” ucapnya.

Dirinya berpesan kepada 150 peserta yang hadir agar mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pertemuan ini, Faiqoh berharap agar kegiatan berjalan dengan lancar dan membawa manfaat yang besar bagi peserta. “Semoga dengan ini bisa menjadi awal untuk terus melanjutkan program-program inovatif yang memberdayakan masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu dalam paparannya, Agus Fatony Tohari, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Kementerian Pertanian RI menerangkan teknik hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa tanah dengan menggunakan air yang mengandung nutrisi. Adapun media pengganti tanah yang dapat digunakan, yakni: sekam bakar, cocopeat, rockwool. Teknik tersebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan cara konvensional, antara lain: dapat menanam empat kali lebih banyak tanaman dibandingkan menanam di tanah; tanaman lebih tahan terhadap penyakit dan hama sehingga dimungkinkan tidak menggunakan pestisida atau obat lainnya; tanaman dapat tumbuh dua kali lebih cepat karena mendapatkan nutrisi, air, dan oksigen secara tepat. (edp)

x