Pemerintahan

BPBD dan BMKG Dhoho Perkuat Mitigasi Kekeringan Akibat El Nino

Jurnalis : Marsella Maulana Piscesa

107Views

KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dhoho mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak El Nino pada musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Perwakilan BMKG Dhoho, Satria Kridha Nugraha, menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena alam yang terjadi akibat penyimpangan suhu permukaan air laut. Ia menyampaikan hal tersebut pada Selasa (6/7). Menurutnya, musim kemarau tahun ini diprediksi akan terasa lebih kering akibat kombinasi fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Sementara itu, defisit curah hujan terbesar diperkirakan terjadi pada September hingga November 2026. Kondisi tersebut kemudian memunculkan istilah populer El Nino Godzila untuk menggambarkan fenomena Super El Nino.

Satria mengatakan, kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak pada berbagai sektor. Di bidang pertanian, berkurangnya ketersediaan air irigasi dapat menurunkan hasil panen, meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman, serta suhu udara yang lebih tinggi dapat memengaruhi produktivitas padi sehingga diperlukan penyesuaian pola tanam.

Pada sektor kesehatan, cuaca panas berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta risiko heat stroke, terutama pada September hingga November. Sementara itu, di sektor kebencanaan, musim kemarau yang lebih kering meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan sekaligus mengurangi ketersediaan air bersih.

Lebih lanjut, Satria menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak secara langsung menyebabkan El Niño karena fenomena tersebut merupakan siklus alami. Namun, perubahan iklim dapat memperkuat dampaknya sehingga suhu udara menjadi lebih panas dan musim kemarau terasa lebih kering.

“Oleh karena itu, masyarakat perlu menghemat penggunaan air dan menjaga kesehatan. Petani juga diharapkan menyesuaikan waktu tanam, memanfaatkan air irigasi secara efisien, serta menerapkan pertanian berkelanjutan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta memanfaatkan informasi dan peringatan dini dari BMKG sebagai dasar pengambilan kebijakan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem melalui penguatan koordinasi lintas sektor.

BPBD telah berkoordinasi dengan BMKG Dhoho untuk memantau perkembangan cuaca secara berkala sebagai dasar penentuan langkah kesiapsiagaan. Selain itu, koordinasi juga dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) guna mengantisipasi potensi gagal panen melalui edukasi kepada para petani.

BPBD juga menggandeng PDAM untuk menyiagakan armada tangki air bersih bagi wilayah yang mengalami kekeringan. Di sisi lain, koordinasi dilakukan bersama Dinas Kesehatan untuk menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan beserta ketersediaan obat-obatan guna mengantisipasi penyakit akibat cuaca panas, seperti dehidrasi, ISPA, dan heat stroke.

Joko mengimbau masyarakat agar menggunakan air bersih secara hemat dan memprioritaskannya untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Masyarakat juga diminta mencegah terjadinya kebakaran dengan tidak membakar sampah sembarangan maupun membuang puntung rokok di lahan kering.

Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, serta menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan.

“Yang tidak kalah penting adalah tanggap melapor. Apabila masyarakat mengalami krisis air bersih maupun menemukan kejadian kebakaran di wilayahnya, segera laporkan melalui layanan Mbak Wali 112 agar dapat segera ditindaklanjuti,” pungkas Joko. (mmp)

x