Pendidikan

Guru di Kediri Dilatih Tanggap Bencana Sekolah

Jurnalis : Ellya Destiara Permata

171Views

Kediri – Urgensi mengenai kesiapsiagaan bencana di area sekolah kini semakin dihayati oleh para guru setelah menghadiri Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Kediri, Selasa (30/6).

Dalam agenda yang berlangsung di Aula RA Kartini Dinas Pendidikan tersebut, para peserta tak sekadar disuapi teori mitigasi, tetapi juga digembleng untuk mampu merumuskan standar operasional prosedur penanganan darurat yang aplikatif di sekolah masing-masing. Salah seorang peserta, Edo Rahmat, yang merupakan guru SMAN 8 Kediri, mengungkapkan bahwa edukasi ini menjadi wawasan baru baginya. Sebab, ia sebelumnya belum pernah memperoleh pembekalan khusus terkait preventif maupun mitigasi bencana di ranah institusi pendidikan, “Materi ini sangat bermanfaat karena kami menjadi lebih siap menyampaikan edukasi kepada siswa ketika terjadi bencana. Kami juga belajar memetakan potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di sekolah sehingga dapat menentukan langkah pencegahan maupun penanganannya,” ujarnya.

Bagi Edo, ulasan mengenai pemetaan risiko merupakan sesi yang paling esensial lantaran menjadi fondasi utama dalam merancang strategi mitigasi. Lewat pemahaman mendalam terhadap potensi bahaya di sekitar, pihak sekolah bakal lebih matang dalam menyiapkan skenario penyelamatan andai kondisi darurat sewaktu-waktu melanda.

Ia pun berterus terang bahwa tingkat kesiagaan di instansinya saat ini memang masih harus dipacu. Pasalnya, isu kebencanaan selama ini belum menempati skala prioritas, sehingga instrumen penunjang di lapangan pun masih sangat minim, di mana sekolahnya baru sebatas memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Berbekal ilmu dari pelatihan ini, Edo berkomitmen untuk segera menghadap kepala sekolah serta jajaran manajemen guna merumuskan langkah konkret ke depan. Agenda terdekatnya adalah menginventarisasi kebutuhan sarana yang masih absen di sekolah sekaligus menyusun program tanggap bencana secara bertahap. Ia pun menaruh harapan agar program edukasi semacam ini terus digulirkan secara masif ke berbagai tingkatan, mulai dari PAUD/TK hingga SMA, demi memupuk karakter sadar bencana sejak usia dini.

Di sisi lain, Dahlia Kusumawati selaku pemateri dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur memaparkan bahwa diklat SPAB ini menyuguhkan paket lengkap manajemen kebencanaan. Materi yang dikupas tuntas mulai dari fase mitigasi, tata kelola kedaruratan, simulasi evakuasi, hingga penyusunan draf aksi nyata untuk diimplementasikan di sekolah.

Ia menjelaskan, sebuah sekolah baru bisa dikatakan sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana jika telah mengantongi sistem dan regulasi internal yang klir saat krisis terjadi. Hal ini krusial demi menjamin keselamatan seluruh warga sekolah, terutama para siswa. Demi merealisasikannya, pihak sekolah wajib membentuk pokja (kelompok kerja) siaga bencana yang solid, merancang rute evakuasi, menentukan titik kumpul dan area evaluasi, serta konsisten menggelar simulasi berkala.

Dahlia menggaris bawahi bahwa kendala yang kerap mencuat adalah kegagapan para guru saat berhadapan dengan situasi genting. Kepanikan figur pengajar justru berisiko mengacaukan proses penyelamatan anak didik. Di samping kesiapan mental, infrastruktur penunjang juga wajib diakomodasi, seperti tangga darurat yang aman, plang jalur evakuasi, lokasi titik kumpul yang representatif, hingga perbaikan struktur bangunan sekolah yang sudah usang.

Komitmen Pemerintah Daerah

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, menegaskan bahwa pelatihan yang melibatkan 15 delegasi guru ini merupakan respons cepat atas maraknya fenomena bencana alam di tanah air akhir-akhir ini. Melalui program besutan Kementerian Pendidikan ini, sekolah dituntut piawai mengadopsi manajemen penanggulangan bencana yang adaptif dengan karakteristik risiko di wilayah masing-masing.

Mandung berharap seluruh sekolah yang mengirimkan perwakilannya dalam giat ini bisa bertransformasi menjadi role model penerapan SPAB di Kota Kediri. Sebelumnya, Disdik bersama BPBD Kota Kediri juga telah sukses mengawal rintisan SPAB di SMPN 6 Kediri.

Ke depan, lewat penguatan kapasitas ini, para pelajar diharapkan tidak cuma paham apa yang harus diperbuat ketika alarm bencana berbunyi, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang cinta dan peduli pada kelestarian alam sebagai langkah preventif jangka panjang dalam menekan risiko bencana. (edp)

x