Pendidikan

Peringatan Hardiknas Kota Kediri Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

178Views

Kediri – Penetapan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Ki Hajar Dewantara dalam meletakkan fondasi pendidikan nasional dan perjuangannya melawan pembodohan kolonial. Ki Hajar Dewantara dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional karena kontribusi dan dedikasinya yang luar biasa dalam meletakkan fondasi pendidikan di Indonesia, terutama di masa kolonial.

Berikut adalah poin-poin penting di balik sejarah penetapan hari besar tersebut:

  1. Sosok di Balik Tanggal 2 Mei
    Tanggal 2 Mei dipilih karena merupakan hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pada tahun 1889. Beliau lahir di keluarga bangsawan Yogyakarta, namun memilih untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya agar bisa lebih dekat dengan rakyat jelata.
  2. Perjuangan Melalui Tulisan dan Politik
    Sebelum fokus di bidang pendidikan, beliau adalah seorang jurnalis yang kritis. Salah satu tulisannya yang paling fenomenal adalah “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan ini memprotes rencana pemerintah kolonial Belanda yang ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan mereka dari penjajahan Prancis dengan menggunakan dana dari rakyat Indonesia. Akibat kritik tajam ini, beliau diasingkan ke Belanda.
  3. Berdirinya Taman Siswa
    Sekembalinya dari pengasingan, Ki Hadjar Dewantara menyadari bahwa kemerdekaan tidak hanya diraih dengan politik, tapi juga dengan mencerdaskan bangsa. Pada 3 Juli 1922, beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta.
    Lembaga ini menjadi tonggak sejarah karena memberikan kesempatan bagi rakyat jelata (bumiputera) untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan para bangsawan dan orang Belanda.
  4. Semboyan yang Melegenda
    Ki Hadjar Dewantara mewariskan tiga semboyan pendidikan yang hingga kini menjadi landasan sistem pendidikan di Indonesia:
  • Ing Ngarsa Sung Tulada: Di depan memberi teladan.
  • Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah membangun semangat.
  • Tut Wuri Handayani: Di belakang memberikan dorongan/kekuatan.

Hingga saat ini, peringatan Hardiknas masih dilakukan melalui upacara-upacara, salah satunya upacara yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Kediri dengan yang dipimpin oleh Walikota Kediri Vinanda Prameswati. Dalam upacara tersebut, Mbak Wali menyampaikan sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, peringatan Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum untuk melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan kembali semangat pendidikan nasional. Pada hakikatnya, pendidikan adalah proses yang memanusiakan manusia. Proses yang dilandasi ketulusan, kasih sayang, serta upaya menumbuhkembangkan potensi setiap individu. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara melalui konsep asah, asih, dan asuh sebagai fondasi pendidikan bangsa. Sejalan dengan itu, tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini, yaitu Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa.

Dalam konteks kebijakan nasional, pemerintah telah mendorong transformasi pendidikan melalui berbagai langkah strategis, seperti penguatan pembelajaran mendalam (deep learning), digitalisasi pembelajaran, peningkatan kualitas guru, serta penguatan pendidikan inklusif. Langkah-langkah tersebut juga telah diterjemahkan dan implementasikan di tingkat daerah. Melalui berbagai program nyata di Kota Kediri. Di antaranya, dalam peningkatan akses pendidikan, Pemerintah Kota Kediri menghadirkan beasiswa bagi guru PAUD untuk peningkatan kualifikasi, beasiswa bagi atlet berprestasi, beasiswa afirmasi bagi masyarakat kurang mampu, beasiswa Mitra MAPAN melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, serta program BOSDA untuk mendukung kualitas pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah Kota Kediri juga terus memperkuat layanan pendidikan inklusif. Melalui, pelatihan guru dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus, pendampingan sekolah inklusi, serta penyediaan layanan pendidikan yang ramah bagi seluruh kelompok, termasuk penyandang disabilitas, “Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang tertinggal, dan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Keberhasilan pendidikan bukan semata ditentukan oleh program, tetapi juga oleh mindset, mental, dan misi yang kuat dalam menjalankannya. Mari kita bersama-sama memperkuat kolaborasi, membangun semangat gotong royong, serta menghadirkan pendidikan yang benar-benar bermakna bagi generasi masa depan,” jelas wali kota termuda ini.

Pemerintah Kota Kediri juga mendorong, penguatan kompetensi digital guru agar adaptif terhadap perkembangan teknologi, transformasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan, coding, dan deep learning, serta peningkatan kualitas pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Sejalan dengan arah kebijakan nasional, Kota Kediri juga berfokus pada peningkatan kualitas pendidik sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing, dan agen perubahan dalam membangun peradaban. (edp)

x