Ekonomi

Tak Perlu ke Hutan Lagi, Mbah Mari Kini Punya Usaha Baru

Jurnalis: Ellya Destiara Permata

124Views

Kediri – Sengatan musim kemarau mulai terasa di Dusun Ringinbagus, Desa Manggis, Kecamatan Puncu. Bagi Mbah Mari (61), pergeseran musim ini membawa tantangan berat. Sayuran liar di hutan yang biasa menjadi tumpuan penghidupannya kian menyusut. Lansia yang sehari-hari merawat cucu berkebutuhan khusus ini dipaksa memutar otak agar dapur rumahnya tetap mengepul.

“Kalau kemarau, biasanya seminggu bisa dua kali memetik sayur, sekarang sekali saja sudah syukur. Itu pun hasilnya sedikit,” tutur Mbah Mari lirih.

Namun, mendung kecemasan itu perlahan terkikis. Pada Selasa (2/6/2026) siang, utusan dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Kopusmik) Kabupaten Kediri menyambangi kediamannya. Kehadiran mereka merupakan respons cepat atas kunjungan Bupati Hanindhito Himawan Pramana—yang akrab disapa Mas Dhito—pada awal Mei lalu. Guna menyokong perekonomian keluarga Mbah Mari, sebuah rombong kontainer untuk berjualan es teh diserahkan secara langsung.

Bantuan modal usaha ini disambut tangis haru sekaligus rasa syukur mendalam dari Mbah Mari. Ia merasa kini memiliki sandaran ekonomi baru yang lebih pasti untuk mencukupi kebutuhan harian. Rencananya, kedai mini tersebut akan didirikan tepat di depan rumahnya untuk menjajakan es teh dan kopi. Mbah Mari berharap putri bungsunya, Niha (19), yang baru saja merampungkan pendidikan, dapat ikut mengelola usaha ini. Pasalnya, fokus Mbah Mari saban hari terbagi untuk mengasuh sang cucu, Muhammad Alza Octaviana (12), yang menempuh pendidikan di SLB PGRI Puncu.

“Semoga ikhtiar ini berjalan lancar dan bisa terus berkembang,” harapnya penuh doa.

Faktor usia yang kian senja memang membuat langkah Mbah Mari ke hutan tak lagi sekuat dulu. Karena itu, ia sangat optimistis bisnis minuman ini memiliki prospek cerah, mengingat lingkungan tempat tinggalnya tergolong padat penduduk.

Menariknya, berkah yang diterima Mbah Mari tak berhenti di situ. Pasca-kunjungan Mas Dhito sebulan lalu, huniannya juga mendapatkan sentuhan renovasi total. Atap rumah yang semula rapuh kini telah diganti dengan baja ringan, lengkap dengan struktur dinding yang ditinggikan agar lebih kokoh dan nyaman, “Dulu kayunya sudah lapuk dan gentingnya berantakan. Kalau hujan dan angin, air masuk semua sampai bingung mau berteduh di mana. Alhamdulillah, sekarang berkat bantuan Pak Dhito semuanya berubah nyaman,” kenang Mbah Mari penuh syukur. (edp)

x