Ekonomi

Inflasi Kediri Lebih Rendah, BPS Waspadai Kenaikan Harga Juli

Jurnalis : Marsella Maulana Piscesa

272Views

Kediri – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri menyampaikan bahwa inflasi Kota Kediri pada Juni 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi Jawa Timur maupun nasional. Meski demikian, BPS mengingatkan adanya sejumlah faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai komoditas pada Juli 2026.

Data tersebut disampaikan dalam Press Release Berita Resmi Statistik yang digelar BPS Kota Kediri secara daring, Rabu (1/7), sebagai bagian dari kegiatan rutin pemantauan harga konsumen yang dilakukan bersama Pemerintah Kota Kediri melalui pencatatan harga berbagai komoditas barang dan jasa.

Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono, menjelaskan bahwa pada Juni 2026 Kota Kediri mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,12 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur yang mencapai 0,30 persen maupun inflasi nasional sebesar 0,44 persen. Sementara itu, inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Kota Kediri tercatat sebesar 2,92 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi bulanan terbesar berasal dari kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,25 persen.

Adapun komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi bulanan di Kota Kediri antara lain bensin sebesar 0,20 persen, bawang putih sebesar 0,06 persen, emas perhiasan, angkutan udara, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,03 persen, ikan bandeng, wortel, minyak goreng, dan pisang masing-masing sebesar 0,02 persen, serta televisi berwarna sebesar 0,01 persen.

Di sisi lain, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi, yakni daging ayam ras dengan andil sebesar -0,15 persen, cabai rawit sebesar -0,10 persen, sawi hijau sebesar -0,07 persen, telur ayam ras dan jeruk masing-masing sebesar -0,03 persen, terong, kelapa, dan cabai merah masing-masing sebesar -0,02 persen, serta semangka dan bayam masing-masing sebesar -0,01 persen.

Selain memaparkan kondisi inflasi Juni 2026, BPS Kota Kediri juga mengingatkan sejumlah faktor yang perlu diwaspadai pada Juli 2026 karena berpotensi memengaruhi kenaikan harga berbagai komoditas. Di antaranya adalah ketersediaan stok dan kelancaran distribusi bahan pangan akibat pengaruh cuaca serta meningkatnya permintaan selama Juli.

Selain itu, penyesuaian tarif BBM non-subsidi yang masih berlangsung akibat konflik geopolitik dinilai sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan efek domino dari kenaikan harga BBM yang masih akan dirasakan sepanjang Juli.

BPS juga memperkirakan harga komoditas elektronik dan suku cadang kendaraan masih akan mengalami kenaikan di tingkat konsumen pada Juli 2026 akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Di samping itu, kebijakan pemerintah mengenai diskon tarif angkutan selama musim libur sekolah diperkirakan turut memengaruhi perkembangan harga pada sektor transportasi.

“Tarif pendidikan juga perlu diwaspadai karena bulan Juli adalah permulaan tahun ajaran baru. Biasanya ada beberapa kenaikan secara berjenjang. Ada pula komoditas yang terkait dengan keperluan sekolah yang biasanya ada penyesuaian harga,” jelas Emil.

BPS Kota Kediri mengimbau masyarakat tetap bijak dalam berbelanja dan merencanakan pengeluaran rumah tangga, terutama menghadapi potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pada Juli 2026.

Menanggapi kondisi inflasi Kota Kediri pada Juni 2026, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Kota Kediri sekaligus Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri menjelaskan bahwa inflasi pada Juni tercatat sebesar 0,12 persen dibandingkan Mei, sedangkan inflasi tahunan mencapai 2,92 persen.

Menurutnya, penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juni. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian pengguna BBM non-subsidi beralih menggunakan BBM subsidi akibat selisih harga yang cukup signifikan. Selain itu, momentum Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang disambut antusias masyarakat melalui berbagai kegiatan turut meningkatkan kebutuhan komoditas bahan pokok.

Untuk menjaga stabilitas harga komoditas yang sempat mengalami kenaikan, TPID Kota Kediri telah menjalankan sejumlah strategi, di antaranya melakukan pemantauan harga dan ketersediaan stok secara rutin serta menjaga kelancaran distribusi dengan menyediakan sarana terminal bongkar muat barang.

Memasuki Juli 2026, TPID menilai sektor pendidikan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena memasuki tahun ajaran baru. Kebutuhan masyarakat terhadap buku, alat tulis, seragam sekolah, tas, dan sepatu diperkirakan meningkat sehingga berpotensi mendorong inflasi.

“Masyarakat diimbau agar dapat mengatur kebutuhan sehari-hari dengan bijak. Sementara para pedagang diharapkan menyediakan kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat agar harga tetap stabil. Pemerintah juga akan terus melakukan pengawasan dan kontrol,” pungkasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying karena pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan seluruh komoditas serta kestabilan harga di berbagai sektor agar roda perekonomian di Kota Kediri tetap berjalan sebagaimana mestinya. (mmp)

x